SELAMAT DATANG DI BLOG ARIEF ARDILES

jika ada kritik dan saran kami persilahkan
Semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

NASIHAT BAGI PEMUDA MUSLIM DAN PENUNTUT ILMU


NASIHAT BAGI PEMUDA MUSLIM DAN PENUNTUT ILMU

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :

[1] Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]

[2] Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.

Diantara perkara-perkara itu :
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan "Ghuraba" (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

"Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing"

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka" [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

"Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku".

Aku katakan : "Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya".

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap "berbalik", dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur'an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang ("suatu jama'ah") dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama'ah-jama'ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du'at (da'i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan "ijtihad mereka".

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : "Saya berijtihad". Atau "Saya berpendapat begini" atau "Saya tidak berpendapat begitu", dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta ijma' (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.

"Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)"

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.

"Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik ..." [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali".

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]


[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]
_________
Foote Note.
[1] Penyusun katakan : "Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian "Salafiyah", memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal 'iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari nasib yang serupa

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=935&bagian=0







===================================================================
        Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================



Modal Kita: 86.400 Detik


Modal Kita: 86.400 Detik
  Jamil Azzaini
  
  Nadia termanggu di ujung kolam. Sudah dua tahun ia selalu menjadi juara dalam kompetisi renang antar perusahaan.  Kali ini ia hanya menduduki peringkat enam.  Nadia tertinggal dua detik dengan juara pertama dan tertinggal kurang dari dua detik dengan peringkat 2, 3, 4 dan 5. Karena tertinggal dua detik, Nadia gagal mempertahankan mahkota juaranya. Hadiah uang tunai senilai Rp 10 jutapun lepas dari tangannya.  Karena tertinggal dua detik, Nadia meneteskan air mata kesedihan di pinggir kolam seusai perlombaan.
  Dua detik amatlah berarti bagi para juara. Jangankan terlambat dua detik, terlambat satu detik atau bahkan kurang dari itu akan membuat mahkota juara berpindah tangan.  Para pembalap formula satu, pelari cepat,  pendayung, dan para olah ragawan akan berlatih keras hanya sekedar untuk mempertahankan waktu tempuh yang pernah dicapai. Mereka tak ingin kecepatannya berkurang walau hanya satu detik.
  Hidup adalah perlombaan.  Bila ingin menjadi juara, kita tak boleh tertinggal walau hanya satu detik.  Sang Pemilik Jagad Raya memberikan hal yang berbeda untuk harta.  Ada yang berlimpah harta, ada yang miskin papa, ada pula yang hidup pas-pasan. Sang Penciptapun memberikan hal yang berbeda untuk wajah.  Ada yang tampan, jelita, cantik, ayu, ada pula yang berparas biasa, bahkan ada yang berparas di bawah rata-rata. 
  Namun Sang Khalik memberikan hal yang sama untuk waktu. Sehari semalam kita diberi modal waktu 24 jam. Tidak peduli apakah kita presiden, pengusaha, kyai, guru, petani, pengangguran, mahasiswa,  pekerja sosial dan profesi lainnya semua diberi modal yang sama 24 jam atau 86.400 detik setiap hari.
  86.400 detik adalah modal yang diberikan oleh Sang Maha Pengasih kepada kita setiap harinya. Bila kita hanya mampu menghasilkan sesuatu yang senilai 86.400 detik per hari maka kita balik modal.  Bila kita tidak mampu menghasilkan sesuatu yang senilai 86.400 detik per hari maka sebenarnya kita merugi. Agar kita memperoleh keuntungan, maka dalam satu hari kita harus menghasilkan sesuatu yang nilainya lebih dari 86.400 detik. 
  Coba anda renungkan! Selama pejalanan hidup anda hingga saat ini, berapa detik waktu yang telah anda buang atau anda sia-siakan.  Berapa detik yang dihabiskan untuk ngrumpi?, menggosip?, nonton acara TV yang tak berkualitas?. Berapa detik pula telah anda gunakan untuk bermaksiat kepada Sang Maha Pemurah yang telah memberikan modal 86.400 detik setiap hari kepada anda?
  Selain itu, saya yakin anda jarang menghitung berapa detik waktu yang telah anda habiskan untuk tidur? Berapa detik waktu yang telah anda habiskan untuk perjalanan dari rumah menuju kantor dan sebaliknya?  Sungguh, detik-detik yang telah anda habiskan untuk sesuatu yang tak bermanfaat akan mengurangi modal yang telah Sang Maha Kuasa berikan kepada anda.  
  Agar modal 86.400 detik yang telah kita terima terus berkembang dan tidak merugi, investasikan setiap detik anda untuk sesuatu yang sangat bermanfaat. Tebarkan energi positif, kebaikan dan amal soleh kepada orang-orang di sekitar kita. Dimulai sekedar senyum dan wajah cerah hingga meringankan beban orang lain, berbagi ilmu kepada yang membutuhkan, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menantang dan berbagi harta kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung. Semua kegiatan yang berkontribusi terhadap peningkatan harkat dan martabat masyarakat akan menjadikan modal 86.400 detik anda terus berkembang dan menghasilkan. 
  Ketika Nadia terlambat dua detik, ia kehilangan mahkota juaranya. Ia kehilangan hadiah uang tunai Rp 10 juta. Ia meneteskan air mata kesedihan di ujung kolam.  Bagaimana dengan anda yang telah mengabaikan ribuan atau jutaan detik? Berapa kerugian yang telah anda derita? Tutup kerugian masa lalu anda. Jadikan setiap detik yang anda punya agar mampu memberikan manfaat buat anda, keluarga, saudara, masyarakat dan bangsa.

Selasa, 31 Mei 2011

Keutamaan Ilmu Daripada Harta


Assalamu'alaikum sahabatku… semoga bermanfaat bagi kalian semua…


Keutamaan Ilmu Daripada Harta


Sepuluh orang kaum Khawarij mendatangi Khalifah ke-IV, Ali bin Abi Thalib Ra. Mereka mendatangi Khalifah karena ingin menanyakan sesuatu, di samping rasa iri terhadap kepandaian khalifah, baik dalam ilmu agama maupun lainnya. Rasuluilah Saw pernah bersabda: "Aku ini kotanya ilmu pengetahuan, dan Ali adalah sebagai pintunya."
Sesampainya mereka dihadapan Khalifah Ali, mereka diterima dengan ramah, dan Khalifah menganggap mereka sebagai tamu terhormat.
Salah seorang dari mereka membuka pertanyaan kepada Khalifah Ali: "Wahai Ali, kami adalah sepuluh orang yang diutus oleh kaum kami untuk mengajukan pertanyaan kepadamu, dan kami akan bergiliran bertanya kepadamu. Dan jawabanmu nantinya akan kami bawa pulang kepada kaum kami."

Khalifah Ali menjawab: "Baiklah kalau demikian. Dan apa yang akan kalian tanyakan padaku?"

"Wahai Ali, manakah yang lebih mulia, ilmu pegetahuan atau harta benda, dan terangkan pula sebab-sebabnya?" tanya orang pertama.
"Ilmu pengetahuan itu adalah warisan para nabi, sedangkan harta kekayaaan adalah warisan Qarun, Syadad dan lain-lain. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan lebih mulia daipada harta benda," jawab Khalifah Ali.

Kemudian orang kedua memberikan pertanyaan: "Manakah yang lebih mulia ilmu pengetahuan atau harta benda, dan jelaskan sebab-sebabnya?"
"Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmulah yang menjaga dan memelihara pemiliknya, sedangkan harta yang empunyalah yang memelihara dan menjaganya," jawab Khalifah Ali.

Setelah orang pertama dan kedua selesai dijawab oleh Khalifah Ali, kemudian orang ketiga, keempat, kelima, hingga orang kesepuluh mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh orang pertama dan kedua.

Kepada penanya ketiga khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena orang yang berilmu banyak sahabatnya, sedangkan orang yang banyak hartanya lebih banyak musuhnya."

Kepada penanya keempat khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu bila disebarkan atau diajarkan akan bertambah sedangkan harta kalau diberikan kepada orang lain akan berkurang."

Kepada penanya kelima khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak dapat dicuri, sedangkan harta benda mudah dicuri dan dapat lenyap."

Kepada penanya keenam khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak bisa binasa, sedangkan harta kekayaan dapat lenyap dan habis karena masa dan usia."

Kepada penanya ketujuh khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak ada batasnya, sedangkan harta benda ada batasnya dan dapat dihitung jumlahnya."

Kepada penanya kedelapan khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu memberi dan memancarkan sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan hati serta menenangkan jiwa, sedangkan harta kekayaan pada umumnya dapat menggelapkan jiwa dan hati pemiliknya."

Kepada penanya kesembilan khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena orang yang berilmu mencintai kebajikan dan sebutannya mulia seperti si 'Alim, dan sebutan mulia lainnya. Sedangkan, orang yang berharta bisa melarat dan lebih cenderung kepada sifat-sifat kikir dan bakhil."

Dan kepada penanya kesepuluh khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia dan lebih utama daripada harta kekayaan, karena orang yang berilmu lebih mendorong untuk mencintai Allah. Sedangkan harta benda dapat membangkitkan rasa sombong, congkak dan takabur."

Seusai mendengarkan jawaban Khalifah Ali yang begitu cemerlang, kesepuluh orang kaum Khawarij itu berdecak kagum, karena satu pertanyaan dapat dijawab dengan sepuluh jawaban. Kemudian, mereka kembali kepada kaumnya dengan rasa puas, dan bertambah yakin bahwa Khalifah Ali benar-benar sebagai pintu gerbangnya ilmu.

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS 27:77)

Jazakumullah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Regards,

- Yoga -
Consumer Loan Sales Management 
Phone : 021-529.04276 ; 021-526.5045 Ext 3517
Fax : 021-526.8284


8 HAL YANG PERLU DIKETAHUI DARI KEGAGALAN


“RENUNGAN MOTIVASI “


8 HAL YANG PERLU DIKETAHUI DARI KEGAGALAN


1.    Gagal itu tidaklah sama dengan menjadi pecundang. Seseorang bisa saja sering gagal namun tetap bukan seorang pecundang.

2.    Gagal tidaklah memalukan seperti yang dikira semua orang. Berbuat salah/kegagalan tidaklah lebih daripada bergabung dengan umat manusia.

3.    Kegagalan itu hanyalah kemunduran sementara. Kegagalan tidaklah pernah menjadi penyebab bab terakhir dari buku kehidupan Anda kecuali Anda menyerah.

4.    Sesuatu yang layak itu tak pernah tercapai tanpa resiko gagal. Orang yang meresikokan segalanya untuk mencoba mencapai sesuatu yang benar-benar layak lalu gagal sama sekali bukanlah pecundang yang memalukan.

5.    Kegagalan adalah persiapan alami untuk meraih sukses walaupun tampaknya aneh, sukses itu lebih sulit dijalani dengan sukses ketimbang kegagalan. Banyak orang-orang sukses dan tokoh-tokoh terkenal yang kesuksesan hidupnya dimulai dari kegagalan-kegagalan, seperti Thomas Alfa Edison penemu listrik setelah lebih dari 100 kali melakukan percobaan-percobaan, Christoper Columbus penemu benua Amerika setelah 3 kali melakukan pelayaran dunia, Abraham Lincoln (presiden Amerika Serikat ke 15 dan sebagai tokoh penentang rasial di Amerika Serikat, yang baru terpilih menjadi presiden setelah mengikuti pemilihan presiden yang ke-3 kali), Mahatma Gandhi (pejuang kemerdekaan India dengan cara anti kekerasan), Nelson Mandela (presiden Afrika Selatan dan tokoh pejuang anti politik Aparteid/perbedaan warna kulit yang dalam perjuangannya sebelum menjadi presiden beberapa kali masuk penjara sebagai tahanan politik dalam pemerintahan rejim aparteid di Afrika Selatan) dan banyak lagi tokoh-tokoh yang lain. Orang yang sukses bukan berarti orang yang tidak pernah gagal melainkan sebagai orang yang tidak pernah berhenti berusaha atau berjuang dalam hidupnya.

6.    Setiap kegagalan disertai dengan kemungkinan-kemungkinan akan sesuatu yang lebih besar. Analisalah kegagalan dari sudut manapun, maka akan Anda temukan benih-benih untuk mengubah kegagalan itu menjadi sukses.

7.    Adalah terpulang pada Anda untuk menyikapi kegagalan-kegagalan dalam kehidupan Anda. Kegagalan itu bisa menjadi berkat atau kutuk, tergantung pada reaksi atau respons masing-masing individu terhadapnya.

8.    Kegagalan adalah peluang untuk belajar bagaimana caranya mengerjakan segalanya dengan lebih baik lain kali (next time got better). Belajar dimana bahaya-bahaya dan bagaimana caranya untuk menghindarinya. Hal yang terbaik dapat dilakukan dengan kegagalan adalah belajar terus darinya.


 

 

 

 

 



۞ 30 SANTAPAN JIWA ۞



            ۞ 30 SANTAPAN JIWA ۞
               (Dzikir : Dr. Miftah Faridl)


1.     Tataplah masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Jangan sia-siakan waktu hanya untuk meratapi kepedihan masa lalu, karena penyesalan atas kegagalan masa lalu secara terus-menerus berarti mengulang kegagalan. Mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu untuk bekal masa yang akan datang adalah sebagian dari kemenangan.
2.     Jangan merasa bahwa derita hanya menimpa kepada diri kita semata, sebab setiap insan pasti memperoleh bagiannya dalam ruang dan bentuk yang beraneka ragam.   
3.     Masa depan seseorang banyak ditentukan oleh kemampuan dirinya dalam mengatasi berbagai kesulitan sebelumnya. Banyak orang yang siap dan tahan banting dimasa silam hanya untuk persiapan meraih kemenangan pada akhirnya.
4.     Semakin tinggi kedudukan dan jabatan ataupun semakin banyak harta seseorang akan semakin tinggi dan besar pula badai topan akan menghadang.
5.     Mereka yang berbahagia adalah mereka yang hari esoknya lebih baik dan lebih cerah dari masa sekarang. Hendaklah menjadi keyakinan bahwa apa yang akan kita panen di masa datang  adalah tergantung dari apa yang kita tanam sekarang.
6.     Janganlah menginginkan sesuatu diluar kapasitas dan kemampuan diri. Orang yang terlampau banyak keinginan diluar kemampuan dirinya adalah mereka yang secara sengaja memperbanyak beban diri dan menyulitkan diri sendiri.
7.     Jangan iri  atas sukses orang lain kecuali dalam tiga hal : Pertama, kegiatan mencari ilmu. Kedua, bersodaqah atau infak. Ketiga, melaksanakan amal kebajikan.
8.     Jangan takut miskin karena harta diambil orang, karena Allah maha adil dan maha sayang,  kalau tidak diganti dunia pastilah diperhitungkan di akhirat.
9.     Barang siapa melakukan kezaliman akan mendapatkan balasan bahkan sebelum kematian datang. Barang siapa memfitnah sebelum ia mati akan mendapat fitnah.
10.  Allah akan selalu menjadi penolong bagi orang yang menolong orang lain. Barang siapa meringankan kesulitan orang lain, maka Allah meringankan kesulitannya.
11.  Tolonglah orang lain maka Allah akan menolong kita. Sayangilah orang lain maka Allah akan menyayangi kita. Maafkan kesalahan orang lain maka Allah akan mengampuni kita.
12.  Apalah artinya sesuatu yang kita miliki kalau tidak dapat menikmati. Lebih baiklah kita menikmati sesuatu (dengan cara yang halal) tanpa memiliki.
13.  Jangan gusar karena orang usil, karena orang usil adalah orang yang kurang pekerjaan, dan apabila kita gusar kerena orang usil berarti kita memperoleh tambahan beban kerja tanpa penghasilan yang berarti kesia-siaan.
14.  Buruk sangka itu derita dan dosa. Orang yang biasa buruk sangka sering menderita karena sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
15.  Pujian itu hanya milik Allah. Orang yang ingin dipuji berarti merampas hak Allah. Banyak orang menderita karena mengharapkan pujian  yang tak kunjung datang.
16.  Manusia lahir tidak membawa kekayaan, demikian pula ketika mati, oleh karenanya harta yang hilang janganlah ditangisi dan menyebabkan kenikmatan hidup menjadi hilang.
17.  Lupa dapat merugikan dan membahayakan, tetapi mudah melupakan penderitaan dan kekecewaan justru merupakan anugerang Allah yang membahagiakan.
18.  Kalau kita jujur dalam introspeksi diri kita akan senyum mentertawakan diri sendiri, sebab kesedihan dan keresahan itu disebabkan oleh ulah kita sendiri.
19.  Kalau kita bertanya tentang persoalan apa yang menyebabkan kita resah gelisah, maka jawabnya pasti urusan dunia dan bukanlah karena urusan akhirat.
20.  Permusuhan itu banyak menyita perasaan. Tidak sempurna iman seseorang kalau bertengkar lebih dari tiga hari tiga malam. Tidak sempurna iman seorang suami/isteri yang kalau bertengkar sampai dimalamkan. Pahlawan besar adalah mereka yang memaafkan dan minta maaf terlebih dahulu.
21.  Berjiwa besar membuat hidup lebih tenang, yaitu dengan cara menjalin silaturahim termasuk kepada yang bermaksud memutuskannya, memafkan orang termasuk  yang menyakiti hati kita, menolong orang lain walaupun orang itu tidak mau menolong kita.
22.  Jangan seseorang terlalu takut berlebihan melakukan kesalahan, karena kesalahan adalah bagian dari kehidupan insan.
23.  Allah tidak memberikan suatu beban kepada hamba-Nya dengan beban yang mereka sendiri tidak kuat memikulnya. Lakukanlah segala titah perintah-Nya sesuai dengan kemampuan yang dianugerahkan-Nya. Ketidakmampuan bukanlah suatu kesalahan sepanjang kita telah berusaha dengan penuh kesungguhan.
24.  Allah itu maha kasih dan maha sayang. Maha adil dan maha penerima taubat. Allah tidak pernah dan tidak akan pernah berlaku zhalim, Allah juga bukan pendendam. Allah senang kepada hamba-hamba-Nya yang tidak putus asa untuk memperoleh rahmat dan inayah-Nya. Allah senang kepada mereka yang senantiasa punya harapan untuk hidup lebih baik di masa yang akan datang.
25.  Harta kekayaan yang pasti menjadi milik kita adalah harta yang sempat kita berikan dengan penuh keiklasan untuk kepentingan agama dan kemanusiaan. Harta itulah yang akan memberikan manfaat yang sebenarnya kepada seseorang setelah peristiwa kematian. Harta yang hilang karena dirampas orang atau hilang karena musibah yang tidak bisa terelakan adalah termasuk sidqah dan kifarat atas dosa dan kesalahan seseorang, sepanjang seseorang yang bersangkutan dapat sabar dan pasrah ke hadirat-Nya. Lakukanlah sesuatu perbuatan dengan penuh keiklasan, kesungguhan dan tanggungjawab, kemudian berserahdiri kepada Allah SWT. Tidak melakukan sesuatu dengan kesungguhan adalah sesuatu kesalahan.
26.  Sedih karena ditinggal wafat seseorang yang dicintai adalah seuatu yang normal sebagai tanda orang yang mempunyai perasaan, tetapi membiarkan kesedihan terus-menerus adalah sikap yang tidak wajar dan dapat menghancurkan kenormalan perasaan.
27.  Silahkan mencintai pasangan hidupmu, ayah, ibu dan anak-anakmu, tapi bersiap-siaplah untuk berpisah dengan mereka. Apakah kita akan meninggalkan mereka atau mereka yang akan meninggalkan kita terlebih dahulu, yang pasti konskuensi kehidupan adalah kematian.
28.  Kalau hari ini kita mengantarkan jenazah teman ke kuburan maka kita harus bersiap-siap bahwa besok atau lusa kitalah  yang akan di antar  ke kuburan oleh teman kita                    yang lainnya.
29.  Jangan takut mati karena mati pasti terjadi kemanapun kita akan lari. Takutlah akan hidup setelah mati, sebab begitu kita mati maka sebenarnya kita hidup di alam lain untuk mempertanggungjawabkan segala apa yang kita lakukan di dunia.
30.  Selain harus berani mati , seorang muslim haruslah juga berani hidup.  Minta mati atau berbuat sesuatu yang menyebabkan kematian adalah dilarang.  Bunuh diri adalah perbuatan yang tidak terpuji.   Orang yang bunuh diri sebenarnya bukanlah pemberani tetapi penakut,  bukan orang yang bertanggungjawab tetapi  orang yang ingin lari dari tanggungjawab!   


Amerika Mulai Miskin??



Politik 'Minyak dan Perang' Bush
Oleh :
Darmansyah Asmoerie
Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group
Jika anda berjalan-jalan di Manhattan , New York , mata anda niscaya akan terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di sebuah gedung tinggi di perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale !
Who Wants to Buy?
Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa Amerika diobral?
Siapa mau beli? Memangnya AS butuh uang?
Atau, Gedung Putih dan Capitol Hill ( DPR AS ) sudah frustrasi mencari uanguntuk membiayai operasional pemerintah AS?
Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di benak orang yang selama ini menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan tidak membutuhkan negara lain. Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia dan anggaran militer terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara makmur yang kaya raya. Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul dalam benak kita yang silau melihat nama besar AS.
Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak --malah jauh dari kondisi yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan koran USA Today, misalnya, menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 8.000 perusahaan AS telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara asing), dengan total nilai lebih dari 1,2 triliun dolar AS.
Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan bermerk asal AS seperti Ford dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan besar tersebut kini bukan milik AS lagi. Di samping Hollywood , hampir semua perusahaan hiburan di AS yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun, sekarang sudah menjadi milik Sony Corporation, Jepang. Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif dan komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak asing. Belum lama ini, misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli perusahaan komputer terbesar di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang luas, Cina pun memproduksi komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di Indonesia dan harganya sangat kompetitif.
Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar karena inefisiensi dan buruh mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural (harga tidak kompetitif, buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain) perusahaan-perusaha an di AS menerima beban kerugian 30 persen di banding perusahaan sejenis di Asia . Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena rakyat AS lebih suka mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah dan lebih berkualitas dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini, misalnya, seperempat dari income penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang impor, mulai makanan dan minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju, sepatu, komputer, dan lain-lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.
Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung defisit yang amat besar. Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan negara-negara lain di dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS harus 'mensubsidi' negara-negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar AS per menit. Sementara tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya 2.400 dolar AS untuk membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu, mobil, komputer, dan lain-lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of Labor Statistics menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta pekerjaan yang berupah tinggi lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya pekerjaan bergaji besar di industri-industri AS.
Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS makin banyak. Saat ini, lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing seperti Jepang, Jerman, dan Cina.
Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat besar --lebih dari 8 triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah batas utang pemerintah federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan 70 persen gros GDP-nya (baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini utang luar negerinya sebesar 30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar AS). Negara-negara lain, khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat ini mengontrol 47 persen defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara utang-utang barunya sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar negeri.
Minyak dan perang Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa mengerti mengapa AS saat ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi terbesar AS saat ini adalah minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang saat ini memproduksi hampir 70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber keuangan' AS. Saat ini, misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS beroperasi di Teluk.
ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas terbesar di AS, kini menjadi perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah salah satu kontributor keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di Washington. Itulah sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai datang ke Jakarta, beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah Indonesia agar menunjuk ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.
Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya dengan SBY di Bogor nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan ekonomi migas. Salah satunya, yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi cadangan gas di Natuna. Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan ExxonMobil maunya mendapat kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran pemerintah Indonesia . Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya amat mahal dan kualitasnya buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah sebaiknya tidak percaya begitu saja.
Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap dipelihara AS? Karena Israel bisa menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk. Keberadaan Israel ini akan menguntungkan AS, khususnya dari kondisi instabilitas Timur Tengah yang kaya minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari serangan teroris, AS akan gampang saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang dituduh Bush menjadi basis teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur Tengah, tentunya tentara AS akan menghancur-leburkan sarana dan prasarana negeri itu. Kenapa demikian? Sekali lagi, itu adalah motif ekonomi.
Di Irak, misalnya. Hanya sepekan setelah perang selesai, perusahaan-perusaha an konstruksi AS langsung mendapat order dari Washington untuk membangun kembali Irak. Perusahaan-perusaha n konstruksi AS, khususnya Halliburton yang sebagian sahamnya dimiliki keluarga Bush, langsung mendapat proyek miliaran dolar AS untuk rekonstruksi Irak. Uangnya dari mana? Dari pampasan perang Irak. Uang minyak Irak pun dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang telah dihancurkan AS sendiri dengan biaya yang amat mahal, tiga sampai empat kali lipat, jika dikerjakan perusahaan lokal. Uang minyak Irak juga dipakai untuk membiayai tentara AS yang kini bercokol di sana .
Dari gambaran itu, istilah pampasan perang Irak adalah suatu logika yang aneh karena Irak tak pernah mengajak perang kepada AS. Akhirnya, kita tahu, migas dan perang adalah sumber ekonomi' AS. Ekspansionisme AS - khususnya dalam mengawal perusahaan minyaknya di luar negeri dan menggertak negara-negara kecil dengan militernya - sebetulnya tak lebih merupakan strategi AS untuk men-survive-kan perekonomiannya.
Fakta Angka 8.000 unit Perusahaan AS yang dijual ke negara lain dalam 10 tahun terakhir.
8 triliun dolar AS Utang AS kepada negara lain.
20 persen Perusahaan manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki asing.

Penulis : Saidurrohman
Cabang : Tangerang